Tu Quoque

menangkis kritik dengan bilang 'kamu juga gitu'

Tu Quoque
I

Pernahkah teman-teman berada dalam situasi seperti ini? Kita sedang berdebat ringan dengan seorang teman tentang pentingnya mengatur keuangan. Kita bilang, "Kayaknya kamu harus mulai nabung deh, jangan sering jajan kopi mahal." Lalu, dengan wajah datar teman kita membalas, "Lah, ngaca dong. Sendirinya minggu lalu baru beli sepatu diskonan pakai paylater, kan?" Blam. Tiba-tiba kita terdiam. Rasanya seperti terkena skakmat di atas papan catur. Perdebatan seketika selesai, dan kita pulang dengan perasaan kesal karena merasa kalah. Tapi, apakah kita benar-benar kalah? Atau jangan-jangan, kita baru saja masuk ke dalam sebuah perangkap percakapan yang sangat kuno?

II

Mari kita bedah situasi ini perlahan. Secara psikologis, saat seseorang mengkritik kita, otak kita tidak selalu meresponsnya sebagai sebuah saran. Seringkali, bagian primitif di otak kita yang bernama amygdala menyala terang. Otak kita memproses kritik verbal tersebut persis seperti ancaman fisik di zaman purba. Insting fight-or-flight (lawan atau lari) kita aktif. Karena lari dari percakapan itu canggung, insting kita memilih untuk melawan. Dan cara paling cepat untuk melucuti senjata lawan adalah dengan menunjuk kemunafikan mereka. Kita secara refleks membongkar masa lalu mereka, mencari dosa yang sama, dan melemparkannya kembali ke wajah mereka. "Kamu juga gitu kok!" Rasanya sangat memuaskan, bukan? Ada lonjakan dopamin saat kita berhasil membalikkan keadaan. Kita merasa menang karena berhasil membuat si pengkritik terdiam malu.

III

Namun di sinilah letak masalahnya. Kepuasan sesaat itu sebenarnya menutupi sebuah celah besar dalam cara kita berpikir. Ketika kita menangkis kritik dengan cara menyerang balik kelakuan si pengkritik, apakah masalah utamanya benar-benar selesai? Mari kita ambil contoh yang lebih ekstrem. Bayangkan seorang dokter yang sedang merokok menasihati pasiennya, "Bapak harus berhenti merokok, karena itu bisa memicu kanker paru-paru." Sang pasien tersenyum sinis dan menjawab, "Dokter sendiri ngerokok, masa nyuruh saya berhenti?" Secara emosional, pasien itu merasa menang telak. Tapi tunggu dulu. Apakah fakta bahwa si dokter merokok tiba-tiba membuat rokok menjadi sehat? Apakah hukum biologi berubah hanya karena yang menyampaikan pesan adalah seorang perokok? Di titik ini, rasanya kita mulai menyadari ada yang salah dengan mekanisme pertahanan diri kita. Ada sebuah "korsleting" dalam logika kita yang sering tidak kita sadari.

IV

Dalam dunia filsafat dan logika, korsleting ini punya nama yang sangat elegan. Bangsa Romawi kuno menyebutnya Tu Quoque (dibaca: tu-kwo-kwe), yang dalam bahasa Latin secara harfiah berarti "kamu juga". Ini adalah salah satu bentuk sesat pikir atau logical fallacy. Lebih spesifiknya, Tu Quoque adalah sepupu kandung dari ad hominem, yaitu taktik di mana kita menyerang karakter lawan bicara, bukan argumennya. Kenapa taktik ini dikategorikan sebagai sesat pikir? Karena kebenaran sebuah pernyataan tidak pernah bergantung pada siapa yang mengucapkannya. Fakta bahwa dokter itu merokok memang menjadikannya seorang yang munafik, tapi itu sama sekali tidak membatalkan fakta medis bahwa rokok merusak paru-paru. Nasihat teman kita tentang menabung tetaplah sebuah kebenaran finansial, terlepas dari apakah dia sendiri masih hobi berutang. Saat kita menggunakan Tu Quoque, kita sebenarnya sedang melakukan ilusi sulap: kita mengalihkan perhatian penonton dari kelemahan argumen kita sendiri, menuju kelemahan karakter lawan bicara kita.

V

Memang, mari kita akui bersama, menerima nasihat dari orang yang kelakuannya tidak sejalan dengan ucapannya itu sangat menyebalkan. Ego kita pasti meronta. Sangat manusiawi jika kita merasa kesal. Namun, sebagai manusia modern yang ingin terus bertumbuh, kita mungkin perlu mulai melatih otot kesabaran kita. Mari kita coba pisahkan pesan dari pembawanya. Jika kita terus-menerus menangkis kritik dengan Tu Quoque, kita justru sedang menutup pintu rapat-rapat bagi perbaikan diri kita sendiri. Kita kehilangan kesempatan emas untuk mengevaluasi diri hanya karena kita terlalu sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Jadi, lain kali jika ada yang mengkritik kita dan lidah kita gatal ingin membalas "kamu juga gitu!", mari tarik napas sejenak. Berikan senyuman, terima kritikannya jika itu memang benar, dan biarkan kemunafikan mereka menjadi urusan mereka sendiri, bukan urusan kita. Lagipula, bukankah belajar dari kesalahan orang lain jauh lebih murah daripada membayarnya dengan kesalahan kita sendiri?